Saturday, June 6, 2009

PENEMU DAN BAHAN DASAR TETES MATA RADIX VITAE

Banyak sekali pengunjung TOKO ONLINE RADIX VITAE yang menanyakan siapa penemu obat tetes mata ini, bahan dasar yang digunakan untuk membuat tetes mata radix vitae, proses pengolahan, dan tingkat keamanan obat ini. Melalui posting kali ini, saya berusaha menyampaikan informasi terkait dengan beberapa pertanyaan tersebut.

Penemu obat ini adalah Bapak Heinrich Melcher, seorang Geolog kelahiran Jerman yang telah malang melintang ke berbagai benua karena pekerjaannya di bidang pertambangan. Sampai akhirnya dia bekerja di tanah Papua (Indonesia). Berdasarkan pengalamannya di berbagai belahan dunia tersebut dia mempelajari kearifan masyarakat lokal/pedalaman dalam menghadapi berbagai penyakit. Sampai akhirnya beliau bertemu dengan tanaman keben di Papua.

Tanaman keben mudah sekali ditemukan di sepanjang pantai Papua. Saat itu di Papua Heinrich Melcher sedang mengamati penduduk Papua yang sedang membius ikan menggunakan biji keben yang dilumatkan dengan atau tanpa dicampur akar tuba dan ditaburkan ke permukaan kolam.

Setelah beberapa saat, ikan-ikan yang bersembunyi di dalam lopak-lopak dan paluh-paluh kolam akan mengambang di permukaan sehingga lebih mudah ditangkap. Namun, ikan-ikan tersebut tidak mati, hanya pingsan selama sekitar 20 menit. Bila tidak diambil dan efek biusnya habis, ikan yang pingsan akan pulih kembali dan berenang ke habitat asalnya seperti sediakala. Dugaannya, saponin, glukosida, dan beberapa zat lain yang terdapat dalam biji keben melumpuhkan sistem saraf pada badan dan mata ikan.

Setelah melihat hal tersebut, Henrich tertarik untuk meneliti lebih jauh apa saja yang terjadi dengan ikan-ikan tersebut. Saat itu ia berfikir bahwa biji keben yang ditaburkan ke kolam telah mempengaruhi sistem saraf mata ikan sehingga menjadi seperti pingsan. Dan karena ikan tersebut ternyata dapat pulih kembali, berarti biji keben tersebut tidak merusak mata. Itulah yang membuat ia yakin bahwa ekstrak biji keben bisa mengobati gangguan mata dan tidak membahayakan kesehatan manusia. Dari sinilah Heinrich mulai tertarik untuk mencoba memanfaatkan buah keben untuk pengobatan mata.

Sebelumnya memang belum pernah ditemukan pengobatan tradisional yang menggunakan biji buah keben dari spesies Barringtonia asiatica untuk mengobati penyakit mata. Namun spesies lain dari genus Barringtonia, yakni putat hutan (B. macrostachya Kurz.) bagian akarnya dan butun darat (B. racemosa L. Bl. Ex. DC) bagian bijinya telah digunakan di Kalimantan dan Jawa untuk mengatasi gangguan mata. Sayangnya, tidak diketahui dengan jelas jenis-jenis penyakitnya.

Sampai akhirnya, pada Desember 2002 Heinrich menemukan komposisi obat tetes mata dari biji keben. Obat tetes ini dibuat dari biji keben yang berspesies 6. asiatica dan fi. exce/sa tanpa campuran bahan lain. Buah keben tersebut diperoleh dari pohon yang tumbuh di tepi pantai Desa Nafri, Distrik Abepura, Kotamadya Jayapura, Provinsi Papua.

Bahan baku biji keben dapat pula diperoleh dari pantai Base G, Distrik Jayapura Utara dan pantai Hamadi, Distrik Jayapura Selatan. Buah dipilih yang sudah matang, dicirikan dengan adanya semburat cokelat pada kulitnya. Dalam memproduksi obat tetes ini, Heinrich tidak pernah mengambili langsung dari pohonnya, melainkan hanya mengambili buah yang sudah jatuh dengan sendirinya.


Awalnya ia mencobakan obat tetes yang dibuatnya, pada matanya sendiri yang menderita hipermetropia (plus) 4. Setelah ditetesi sebanyak 20 kali, masing-masing mata 2 tetes (1 tetes = 0,06 ml.) setiap dua hari sekali, ia merasakan ada perbaikan. Saat itu hipermetropia di matanya telah turun menjadi plus 2. Hasil uji coba ini semakin membuatnya yakin bahwa obat ini tidak menimbulkan efek samping atau membahayakan kesehatan orang lain. Hanya saja setelah ditetesi, mata akan terasa pedih sekitar 15 – 30 menit.


Dengan keyakinan ini, ia memberanikan diri untuk mengujikan obat tetes mata buatannya pada penderita gangguan mata di Jayapura, kota tempat tinggalnya. Hasil uji coba ini membuktikan bahwa obat tetes mata keben mampu menyembuhkan penyakit katarak, pterigium, glaukoma baru, miopia, dan hipermetropia.

Sampai saat ini tidak ada pasien yang mengeluh atau keberatan dengan obat tetes mata keben. Mereka justru memberikan dorongan dan semangat supaya obat ini dapat diperkenalkan kepada masyarakat luas. Heinrich juga mendapat perhatian dan dukungan dari kalangan medis seperti, dr. John Manangsang, dr. Barus Siahaan, dan dr. Lewerissaa (ahli mata di RS Dok 2, Jayapura).

Senyawa apa saja yang terkandung dalam buah keben ?

Hingga saat ini telah banyak penelitian yang dilakukan untuk mengungkap kandungan senyawa aktif dalam tanaman keben, Greshoff, peneliti dari Belanda menemukan zat-zat seperti saponin beracun di dalam biji yang sudah diterapkan dalam ilmu kedokteran. Dari penelitian-penelitian lain diketahui bahwa selain saponin, buah dan biji keben juga mengandung asam galat; asam hidrosianat yang terdiri dari monosakarida; serta triterpenoid yang terdiri dari asam bartogenat, asam 19-epibartogenat, dan asam anhidro-bartogenat.

Senyawa aktif dalam biji buah ini, yang diduga kuat memiliki efek penyembuhan dalam pengobatan mata adalah dari golongan saponin. Beberapa jenis saponin telah berhasil diidentifikasi. saponin yang berasal dari buah keben merupakan saponin jenis baru. Dengan kandungan senyawa tersebut buah keben telah dilaporkan memiliki banyak aktivitas farmakologis seperti anti bakteri, anti jamur, analgesik, dan anti tumor

Untuk melakukan studi ilmiah tentang kandungan senyawa aktif yang terkandung dalam buah keben beserta khasiatnya ini, Heinrich Melcher bekerja sama dengan Dr.Ir. M. Ahkam Subroto seorang peneliti dari LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia).


Proses Pengolahan
Saat ini proses pengolahan biji buah keben telah diperbaharui dengan menggunakan metode Deep Freezing System yang merupakan teknologi dari Jerman sehingga menghasilkan Tetes Mata Herbal dari buah keben yang pertama dan satu-satunya di dunia. Teknologi tersebut memungkinkan Tetes Mata Herbal Radix Vitae tidak terlalu terasa pedih di mata bila dibandingkan saat masih dalam awal produksinya dahulu. Penetesan obat mata dapat dilakukan setiap hari. Setelah penetesan, mata cukup dipejamkan selama tiga menit.


Jaminan Keamanan
Proses pembuatan dan penggunaan obat tetes mata Radix telah diuji Pusat Studi Biofarmaka IPB Bogor nomor sertifikat: 054/13.11.8/LUB-CT/XII/2008, dan telah dinyatakan aman untuk dipakai oleh manusia. Produk ini juga telah didaftarkan hak paten ke Dirjen hak kekayaan intelektual (HKI) dan Dephumham RI Nomor.P00200600074.

Dengan demikian para calon konsumen tidak perlu ragu atau was-was dalam menggunakan obat tetes mata ini. Sampai saat ini telah lebih dari 100.000 orang yang menggunakan obat tetes mata ini. Segera ambil keputusan. Jangan sampai terlambat.

7 comments:

  1. berapa harganya , dan bisa didapat dimana >?

    ReplyDelete
  2. saya masih umur 12 tahun dan silinder 1.50 kiri&kanan apakah boleh dipakai?

    ReplyDelete
  3. adik saya masih berumur 5 tahun setengah, apakah boleh menggunakan obat tetes produk ibu?
    adik saya mengalami miopi hingga minus mata kanan:5 dan kiri:2.untuk harganya berapa?
    ini email saya : ratnanya@gmail.com
    ini nomer saya : 081515122696

    ReplyDelete
  4. saya minus 4, apa bisa menggunakan itu ?
    lalu dlm jangka waktu brp lama?
    eh, harganya brp juga ya?

    tolong di kirim ke email saya
    ndu_baqpaou@yahoo.co.id
    atau di nomor saya 081542735848

    ReplyDelete
  5. dyna kusumawati

    saya minus 3...umur 23th apa masih bisa sembuh?
    untuk 1 botol kira-kira bisa turun berapa minusnya?

    tolong di kirim ke 085228886091
    atau email kusumawatidyna@yahoo.co.id

    ReplyDelete
  6. hallo saya bella 19thun
    sya memiliki minus 3 dan silinder 1,5 pada kedua mata saya apakah bisa berkurang atau malah sembuh? dan selama berapa lama kira2? dan harga 1 botolnya berapa?
    terimakasih

    tlong di balas di email
    zeni.buanawati@gmail.com

    ReplyDelete
  7. siang, apakah obat tetes mata ini bisa digunakan untuk anak2 yg katarak, umur anak saya 7 th, terima kasih

    ReplyDelete